CERITA CINTA SELAMANYA - WATON
Headlines News :
Home » , » CERITA CINTA SELAMANYA

CERITA CINTA SELAMANYA

Written By Unknown on Selasa, 07 Desember 2010 | 10.34.00



Nia …. Kania!!

Aku yang sedang berdiri di depan taman kampus, menatap daun-daun pohon mapel yang jatuh berguguran, seketika tubuhku gemetar. Suara itu!!! Suara yang takkan pernah dapat kulupakan. Suara yang menemaniku melewati hari-hari di masa lalu.

Jangan menyerah Nia!!! Masalah kehidupan takkan usai hanya dengan kau tangisi, cobalah hadapi! Ada Tuhan dan aku yang selalu mendukungmu! Kau tak sendiri! Namun apabila yang telah kau perjuangkan tak seperti yang kau impikan, berpasrahlah! Tangan-tangan Tuhan akan bekerja untuk membuat keajaiban yang tak kau duga!!” demikian kata-katanya selalu ku ingat.




Dan apakah kehadirannya dihadapanku adalah sebuah keajabain tangan Tuhan! Entahlah! Bayangkan! Mati-matian aku bersembunyi pergi dari tempat ke tempat membawa kepingan-kepingan hatiku yang telah hancur, aku berusaha menguliti cintanya dari tubuh dan jiwaku. Tetapi semakin berusaha kulepas aku semakin tak berdaya. Cintanya telah menyatu di tubuhku sendiri.

Kemanapun aku pergi di setiap sudut kota yang aku singgahi selalu mengingatkan aku padanya. Jembatan diatas rel kereta api di sebuah kota membuat anganku terbang kembali ke masa lalu.

Nia, saat kereta api menuju kemari dan lewat bertriaklah sekencang-kencangnya, menanglah keluarkan semua beban di hatimu biarkan ia pergi bersama kereta yang berlalu! Katanya sambil menatapku sejak itu, setiap kali masalah hadir mendera-dera hatiku, aku berlari ke jembatan dan aku selalu merasa lega setelah melakukan itu.

Masalah demi masalah selalu tersenyum dan datang kepadaku bahkan sebelum aku lahir. Ibuku yang sakit-sakitan karena ayah jarang pulang untuk main perempuan. Dan lebih parahnya lagi setelah melahirkan aku ibu terkena penyakit yang membuatnya tak dapat hamil lagi dan ayah memutuskan menikah lagi dengan alasan menginginkan anak laki-laki.


Ketika ayah menikah lagi, ibu memilih bertahan di madu dengan alasan ingin mendapat ridho dari Tuhan. Tapi pilihannya itu membuat dirinya begitu menderita tekanan batin yang membuncah hingga akhir hayatnya. Sedangkan ayahku? Heh…. Jangan ditanya! Entah dimana ia saat itu.

Puncak penderitaan hidupku setelah sepeninggal ibu, mengetahui kenyataan itu seperti tersambar petir! Betapa tidak! Kekasihku Dion adalah anak dari ibu tiriku, isteri ayah, anak lelaki yang diinginkan ayah adalah Dion. Aku hancur, marah, kecewa kepada ayah, ibuku, ibu Dion dan tentu saja Dion dan takdir yang tak henti-hentinya membawa penderitaan.

Sejak peristiwa kelam itu aku tak lagi memiliki tempat bersandar. Dion orang yang ku kenal tangguh ternyata begitu rapuh. Aku sudah terlalu muak dengan ayahku dan isterinya. Aku juga muak dengan Dion. Berulang kali dia mengajakku berbicara. Tetapi hatiku sudah terlalu sakit dengan semua ini.

Setelah sarjana kuraih dengan cumlaude, aku mendapat beasiswa untuk melanjutkan S2 ke luar negeri dan tak kusia-siakan kesempatan emas itu, lalu gelar S2 kupun dapat kucapai dengan hasil cumlaude, lagi aku dapatkan beasiswa untuk gelar doktor hingga sekarang, dan akan kulakukan apapun agar aku bisa mengikuti post doctoral research agar aku tak pulang kembali ke tempat masa laluku yang kelam.

Hingga saat itu. Di awal musim gugur daun-daun mapel yang mulai jatuh berguguran , aku mendapati dirinya dihadapanku.


“Nia….Kania!!”

Aku terhenyak semua ingatan masa laluku kembali hadir, aku diam terpacu dan tak kusadari ia ada dihadapanku.

Akhirnya! Kau kutemukan juga, sulit sekali mencari jejakmu! Keberuntunganku tak sengaja kulihat fotomu di facebook temanku, dia menari nafas panjang dan menghembuskannya penuh lega.

Lalu dia memelukku, aku tak kuasa menolaknya sekilas kulihat matanya pun basah linangan air mata. Digandengnya aku menuju sebuah kursi di pinggir taman kampus.

“Nia, pulanglah! Semua orang merindukanmu!, matanya mengerjap.

“Apa! Tidak salah dengar? Aku ini siapa??” ujarku sinis

“Nia!!” ujarnya dengan nada agak tinggi” aku sebenarnya takut untuk menemuimu! Tapi kukumpulkan keberanianku karena ayahmu memintaku agar aku menemui” lanjutnya lagi

“Ayahhku!!!’

“Dia sakit keras! Dia berharap bisa menemuimu”

Aku mendengus, aku baru tahu kalau dia masih menganggap ku anaknya, sejak lahir dia tak pernah memandangku, memanggil namaku dan aku tak diperbolehkan memanggilnya ayah aku seperti segumpal daging hidup yang menjijikan lagi pula aku hanya anak perempuan! Seberapa penting sih anak perempuan!!”

“Nia!!” bentaknya

“Betapa egoisnya lelaki itu, ketika tubuhnya masih berjaya, dia sesuka hati memperlakukan anak isterinya seperti binatang setelah sekarat huh!!

“Sudahlah Nia, kau jangan membayangkan ayahmu setegar dulu, dia ….!

“Bukan tegar tapi tega!!” potongku

“Nia…dengan, dia terbaring lemah, tolonglah!!”

“Tolong, dulu saat aku meminta tolong berharap diakui sebagai anak dimana dia? Saat dia menikahi wanita jalang itu…..Maaf! Lalu saat ibu meminta agar ayah tak melupakannya tapi dia!!! Bahkan saat ibu meninggal, kami hanya berharap ayah menjenguk tapi mana!!! Nyatanya dia sedang bersenang-senang!! Sudahlah anggap saja aku sudah mati! Aku tidak akan mau dan tidak akan pernah kembali ke sana, camkan itu!!!.

“KANIA…..apakah hatimu sudah mati dan membatu?” apa yang kau pelajari di negara ini sehingga kau jadi seperti ini?”

“Aku sudah mati, saat ibu pergi aku sudah sekarat dan saat aku tahu kenyataan pahit tentang dirimu aku sudah mati!”

Suasana berubah jadi hening dalam sekejap begitu beku aku tak kuasa lagi, semua terlalu perih aku berlari menghambur meninggalklannya tanpa pamit. Terserahlah luka yang ayah buat sudah membuatku begini!!


sumber:http://ceritacinta-di.blogspot.com/2009/10/cerpen-selamanya.html
Pesan Tulisan: hanya orang bijak yang bisa mengambil hikmah dari sebuah kejadian...
Penulis : Shella
Ayo Share Postingan kami ini :
Comments
0 Comments
Facebook Comments by DhaMar Information For ALL

0 c0ment:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : DhaMar | DhaMar Design | Love Never Ending Just For You
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2013. WATON - All Rights Reserved
Template Design by DhaMar Design Published by RyDhaNaTra DhaMar Foundation